Di Balik Dinding Mahida: Menempa Diri, Menjaga Negeri
Di balik dinding Pondok Pesantren Mahida, kehidupan santri bukan sekadar tentang hafalan, kedisiplinan, dan aturan. Melalui kerinduan, perjuangan, persaudaraan, serta keteladanan para guru, seorang santri belajar menemukan jati diri dan memahami bahwa kebebasan sejati bukanlah hidup tanpa batas, melainkan kemampuan mengendalikan hawa nafsu, mengalahkan ego, dan bertanggung jawab atas setiap pilihan. Esai reflektif ini menggambarkan bagaimana kehidupan pesantren menempa karakter, mendewasakan cara berpikir, dan menanamkan kesadaran bahwa ilmu tidak cukup hanya dikuasai, tetapi harus diamalkan demi kemaslahatan sesama, masyarakat, dan negeri.
Dinding Pondok Pesantren Manba’ul Hidayah (Mahida) berdiri dengan warna yang bersahaja. Dari luar, ia mungkin tampak seperti batas yang memisahkan kehidupan seorang remaja dari dunia yang menawarkan begitu banyak kebebasan. Di baliknya, waktu berjalan menurut aturan, kegiatan mengikuti jadwal, dan keinginan pribadi tidak selalu mendapatkan tempat. Bagi saya yang baru mengenal kehidupan pesantren, dinding itu pernah terasa seperti sesuatu yang merenggut sebagian kebebasan. Namun, semakin lama saya tinggal di dalamnya, semakin saya menyadari bahwa tidak semua yang membatasi berarti menghalangi. Ada batas yang justru memberi manusia kesempatan untuk mengenali dirinya sendiri.
Pada minggu-minggu pertama menjadi santri, kehidupan di Mahida terasa seperti memasuki dunia yang sama sekali berbeda. Ketika sebagian orang masih terlelap dalam hangatnya selimut, suara ketukan dan langkah kaki telah memecah keheningan. Udara dini hari menyentuh kulit, sementara air wudu terasa begitu dingin hingga membuat tubuh menggigil. Dengan mata yang masih berat menahan kantuk, saya berjalan menuju tempat salat, berusaha mengalahkan keinginan untuk kembali berbaring.
Hari belum sepenuhnya terang ketika lantunan ayat-ayat Al-Qur'an mulai terdengar. Tidak lama kemudian, lorong-lorong pondok dipenuhi langkah sandal yang bergegas. Suara para santri mengulang bait-bait Alfiyah Ibnu Malik dan mempelajari Jurumiyah saling bersahutan, membentuk irama yang barangkali hanya dapat dirasakan oleh mereka yang pernah tinggal di pesantren. Di bawah temaram lampu, kami berjuang mengingat hafalan yang belum juga melekat di kepala. Sesekali, rasa kantuk membuat baris-baris kitab seolah berputar di hadapan mata.
Dalam keadaan seperti itu, saya sering bertanya kepada diri sendiri: mengapa sesuatu yang disebut sebagai jalan menuju ilmu justru harus dilalui dengan begitu banyak kesulitan? Mengapa untuk menjadi lebih baik, seseorang harus terlebih dahulu berhadapan dengan rasa lelah, keterpaksaan, bahkan keinginan untuk menyerah?
Pertanyaan itu tidak segera menemukan jawabannya. Pada mulanya, saya menjalani aturan karena memang harus menjalaninya. Saya bangun karena jadwal mengharuskan, menghafal karena pelajaran menuntut, dan mengikuti pengajian karena itulah kewajiban seorang santri. Akan tetapi, waktu perlahan mengubah cara saya memandang semuanya. Saya mulai memahami bahwa kedisiplinan bukan semata-mata kemampuan menaati aturan, melainkan kesanggupan untuk tetap melakukan sesuatu yang baik meskipun hati sedang tidak menginginkannya.
Barangkali, di situlah salah satu pelajaran pertama tentang kebebasan. Selama ini, saya mengira bebas berarti dapat melakukan apa saja yang dikehendaki. Padahal, manusia yang selalu menuruti keinginannya belum tentu benar-benar merdeka. Ia bisa saja menjadi tawanan kemalasan, amarah, atau kesenangannya sendiri. Di Mahida, saya perlahan belajar bahwa kebebasan juga menuntut kemampuan mengendalikan diri. Sebab, tidak semua yang kita inginkan perlu dilakukan, dan tidak semua yang terasa berat patut ditinggalkan.
Namun, memahami sesuatu dalam pikiran ternyata jauh lebih mudah daripada menjalaninya dalam kehidupan.
Ada malam-malam ketika saya kembali teringat rumah. Kenangan tentang ibu datang tanpa diminta: tangannya yang menyiapkan bekal sebelum keberangkatan, pesan-pesan sederhana yang dahulu terdengar biasa, serta senyum yang berusaha dipertahankan ketika harus melepas anaknya pergi. Hal-hal kecil yang sebelumnya nyaris tidak saya perhatikan justru menjadi begitu berharga setelah jarak memisahkan kami.
Ketika teman-teman mulai tertidur dan kamar perlahan tenggelam dalam keheningan, kerinduan itu kadang terasa semakin berat. Saya menatap langit-langit kamar, mendengarkan napas orang-orang di sekitar, sementara pikiran saya berjalan jauh menuju rumah. Pada saat seperti itu, saya menyadari bahwa menjadi santri bukan hanya tentang meninggalkan tempat tinggal, melainkan juga belajar hidup tanpa selalu mendapatkan kenyamanan yang dahulu tersedia.
Saya pernah merasa ingin menyerah.
Ada hari ketika hafalan terasa tidak kunjung selesai, tubuh kehilangan tenaga setelah menjalani berbagai kegiatan, dan kerinduan kepada keluarga seolah tidak menemukan jalan pulang. Saya mulai meragukan kemampuan diri sendiri. Barangkali saya memang tidak cukup kuat. Barangkali kehidupan pesantren bukan tempat yang tepat bagi saya.
Di tengah keadaan itu, seorang teman menyadari perubahan sikap saya. Ia datang, duduk di samping saya, lalu menepuk bahu saya. Tidak ada nasihat panjang, tidak ada penjelasan tentang keutamaan bersabar, apalagi janji bahwa semuanya akan segera menjadi mudah.
Ia hanya berkata, “Sabar, kita jalani sama-sama.”
Kalimat itu sederhana. Akan tetapi, justru dalam kesederhanaannya, saya menemukan sesuatu yang tidak saya peroleh dari usaha menghadapi kesulitan seorang diri. Teman saya tidak menghilangkan masalah yang sedang saya hadapi. Hafalan tetap menunggu untuk diselesaikan, kegiatan esok hari tetap harus dijalani, dan kerinduan kepada rumah tidak mendadak lenyap. Namun, kehadirannya membuat beban itu terasa berbeda.
Saya mulai memahami bahwa manusia tidak selalu membutuhkan jawaban atas setiap kesulitannya. Ada kalanya, yang paling dibutuhkan hanyalah seseorang yang bersedia tinggal di sisinya ketika ia belum mampu menemukan jalan keluar.
Sejak saat itu, saya memandang keteguhan dengan cara yang berbeda. Menjadi kuat ternyata bukan berarti tidak pernah menangis, tidak pernah takut, atau tidak pernah ingin pulang. Kekuatan kadang justru tumbuh ketika seseorang berani mengakui kelemahannya, menerima pertolongan, lalu mencoba melangkah sekali lagi. Saya pun belajar bahwa kemandirian tidak harus berarti menghadapi segala sesuatu sendirian.
Pengalaman itu membuka mata saya terhadap sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatian. Mahida tidak hanya mendidik kami melalui kitab, hafalan, dan pengajian. Sebagian pelajaran yang paling membekas justru hadir dalam peristiwa-peristiwa kecil yang berlangsung di antara sesama santri.
Salah satunya adalah tradisi mayoran, makan bersama dalam satu nampan.
Ketika waktu makan tiba, kami duduk berdekatan, mengulurkan tangan untuk mengambil nasi dan lauk yang tersedia. Percakapan sederhana mengalir di antara suapan, diselingi candaan yang terkadang membuat kami tertawa tanpa alasan yang benar-benar istimewa. Dalam kebersamaan itu, makanan yang sederhana bisa terasa lebih nikmat, bukan semata-mata karena rasanya, melainkan karena ada orang lain yang turut menikmatinya bersama kami.
Di hadapan satu nampan, perbedaan latar belakang seolah kehilangan sebagian jaraknya. Anak dari keluarga berada duduk berdampingan dengan anak petani. Mereka yang datang dari lingkungan berbeda berbagi makanan dan ruang yang sama. Tidak ada kemewahan yang menentukan siapa lebih pantas dihormati. Ketika lauk tinggal sedikit, kami belajar menahan keinginan untuk mengambil lebih banyak. Ketika ada teman yang belum mendapatkan bagian, kami belajar memperhatikan kebutuhannya.
Saya kemudian menyadari bahwa persaudaraan tidak cukup dipahami sebagai perasaan dekat dengan orang lain. Persaudaraan menuntut kesediaan untuk memberikan ruang bagi kepentingan sesama, bahkan ketika hal itu berarti mengurangi bagian yang bisa kita nikmati sendiri.
Dalam satu nampan, saya belajar bahwa kebersamaan bukan hanya tentang menikmati sesuatu bersama-sama, tetapi juga memastikan tidak ada seorang pun yang merasa ditinggalkan.
Pelajaran itu ternyata tidak selalu mudah diterapkan. Kehidupan bersama mempertemukan kami dengan kebiasaan, watak, dan cara berpikir yang berbeda. Ada yang mudah bergaul, ada yang lebih senang menyendiri. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada pula yang harus mengulang berkali-kali. Perbedaan terkadang melahirkan kesalahpahaman, bahkan perselisihan yang membuat hubungan terasa renggang.
Namun, justru dari keadaan itulah kami belajar bahwa persaudaraan bukan berarti tidak pernah berbeda pendapat. Persaudaraan adalah kesediaan untuk tetap menghargai orang lain ketika pendapatnya tidak sama dengan kita; keberanian meminta maaf ketika melakukan kesalahan; dan kelapangan hati untuk memaafkan meskipun perasaan belum sepenuhnya pulih.
Saya mulai memahami bahwa menghormati manusia jauh lebih mudah diucapkan daripada dipraktikkan. Kita dapat berbicara panjang tentang kesabaran, tetapi belum tentu mampu bersabar ketika menghadapi sifat teman yang tidak kita sukai. Kita bisa menghafal banyak nasihat tentang kerendahan hati, tetapi masih merasa sulit mengakui kesalahan sendiri.
Di sinilah kehidupan pesantren menemukan maknanya yang lebih dalam.
Kitab memberi kami pengetahuan tentang apa yang baik, sementara kehidupan sehari-hari memperlihatkan seberapa jauh pengetahuan itu telah menjadi bagian dari diri kami. Pengajian mengajarkan pentingnya menjaga lisan, tetapi pergaulan menguji kemampuan kami menahan ucapan yang dapat melukai. Nasihat tentang kesabaran terdengar begitu indah, tetapi antrean, kelelahan, dan perbedaan pendapat menguji apakah kami benar-benar bersedia menjalaninya.
Saya pun semakin mengerti bahwa ilmu tidak seharusnya berhenti sebagai sesuatu yang tersimpan dalam ingatan. Ilmu semestinya meninggalkan bekas pada cara seseorang memperlakukan kehidupan. Sebab, apa artinya mengetahui banyak perkara tentang kebaikan apabila pengetahuan itu tidak membuat kita lebih berhati-hati terhadap perasaan orang lain? Apa gunanya memahami pentingnya adab apabila kita masih mudah merendahkan mereka yang berbeda dengan kita?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang perlahan mengubah cara saya memandang kegiatan belajar. Menghafal tetap penting, memahami pelajaran tetap menjadi kewajiban, tetapi keduanya bukan akhir dari perjalanan. Ada tanggung jawab yang lebih panjang setelah ilmu diperoleh: menjadikannya penuntun dalam bersikap dan berbuat.
Dalam proses tersebut, kiai dan para asatidz memiliki tempat yang tidak tergantikan. Dari mereka, kami mengenal bahwa menuntut ilmu bukan hanya perkara kemampuan berpikir, melainkan juga kesungguhan hati dan ketulusan dalam menerima bimbingan. Menghormati guru tidak cukup diwujudkan melalui sikap lahiriah. Penghormatan itu semestinya tumbuh menjadi kesadaran untuk menjaga amanah ilmu yang telah diajarkan.
Saya belajar memandang adab bukan sebagai sesuatu yang mengurangi kebebasan berpikir, melainkan sebagai tuntunan agar pengetahuan tidak kehilangan arah. Seseorang boleh memiliki keluasan ilmu, tetapi keluasan itu akan kehilangan sebagian maknanya apabila menjadikannya angkuh. Demikian pula, kepandaian tidak seharusnya menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Semakin banyak yang dipelajari, semakin terasa betapa luasnya hal-hal yang belum diketahui. Kesadaran akan keterbatasan diri itulah yang semestinya menumbuhkan kerendahan hati.
Lambat laun, saya menyadari bahwa kehidupan di balik dinding Mahida sesungguhnya sedang mempertemukan saya dengan persoalan-persoalan yang kelak juga akan saya hadapi di luar pesantren. Di sini ada perbedaan yang harus dihormati, kepentingan pribadi yang perlu dikendalikan, tanggung jawab yang harus ditunaikan, dan hubungan antarmanusia yang mesti dijaga. Semua itu bukan hanya persoalan kehidupan santri, melainkan bagian dari kehidupan bermasyarakat.
Kesadaran tersebut memperoleh makna yang lebih luas ketika saya merenungkan Hari Santri.
Sejarah perjuangan kaum santri, termasuk semangat Resolusi Jihad, mengingatkan bahwa pesantren memiliki hubungan yang panjang dengan perjalanan bangsa Indonesia. Para pendahulu tidak memandang pengabdian kepada agama dan tanggung jawab terhadap tanah air sebagai dua perkara yang harus dipertentangkan. Kecintaan kepada negeri menemukan wujudnya dalam keberanian menjaga kehidupan bersama dan mempertahankan kemerdekaan.
Namun, zaman telah berubah. Tidak semua generasi menghadapi panggilan pengabdian dalam bentuk perjuangan yang sama. Jika dahulu para pendahulu harus menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan, generasi sekarang berhadapan dengan tantangan yang tidak selalu terlihat sebagai musuh di hadapan mata: ketidakjujuran, sikap saling merendahkan, kepedulian yang semakin menipis, dan kecenderungan mendahulukan kepentingan sendiri dengan mengabaikan orang lain.
Di tengah keadaan itulah saya mulai memahami bahwa menjaga negeri tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar yang dikenal banyak orang.
Menjaga negeri dapat dimulai dari keberanian berlaku jujur ketika tidak ada yang mengawasi. Dari kesediaan menghormati orang yang berbeda latar belakang. Dari kemampuan mengendalikan amarah agar perselisihan tidak berubah menjadi permusuhan. Dari kesungguhan menuntut ilmu agar kelak mampu memberikan manfaat, bukan sekadar memperoleh kedudukan.
Saya teringat kembali kepada nampan tempat kami makan bersama. Barangkali, kehidupan berbangsa jauh lebih rumit daripada kebersamaan beberapa santri yang berbagi makanan. Namun, ada nilai yang mempertemukan keduanya: tidak seorang pun semestinya merasa paling berhak menikmati kehidupan bersama sambil mengabaikan hak orang lain.
Dari hal kecil itulah saya melihat hubungan antara pendidikan pesantren dan tanggung jawab kebangsaan. Seseorang yang terbiasa menghormati perbedaan dalam kehidupan sehari-hari sedang mempersiapkan dirinya untuk hidup di tengah masyarakat yang lebih luas. Seseorang yang belajar berbagi, menepati amanah, serta mengendalikan kepentingan pribadi sedang menanamkan dasar bagi kehidupan bersama yang lebih adil.
Tentu, pengalaman hidup di pesantren tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang baik. Memakai sarung, menghafal kitab, atau menyandang sebutan santri bukanlah jaminan bahwa seseorang telah memiliki akhlak yang luhur. Nilai-nilai yang diajarkan tetap harus diperjuangkan dalam tindakan, bahkan setelah seseorang meninggalkan lingkungan yang selama ini membimbingnya.
Justru di situlah tanggung jawab seorang santri menjadi lebih besar. Ilmu yang diperoleh tidak boleh hanya menjadi kebanggaan pribadi atau identitas yang berhenti pada penampilan. Ia harus menemukan manfaatnya di tengah masyarakat, tempat kejujuran terkadang diuji oleh kepentingan, kesabaran diuji oleh perbedaan, dan keberanian diperlukan untuk tetap memilih yang benar.
Saya mulai memahami bahwa mencintai negeri bukan hanya perkara menyatakan kebanggaan sebagai bagian darinya. Kecintaan juga menuntut kesediaan merawat kehidupan yang kita bagi bersama. Dan seseorang yang belum belajar bertanggung jawab atas tindakannya sendiri akan sulit menjalankan tanggung jawab yang lebih besar terhadap orang lain.
Maka, perjalanan menempa diri di Mahida tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari cita-cita menjaga negeri. Keduanya berhubungan melalui sesuatu yang sering kali tidak tampak: pembentukan watak manusia.
Kini, ketika mengingat kembali dinding-dinding Mahida, saya tidak lagi memandangnya semata-mata sebagai bangunan yang membatasi ruang gerak. Di balik dinding itu tersimpan begitu banyak pengalaman yang perlahan membentuk cara saya memahami kehidupan.
Ada suara hafalan yang pernah membuat kepala terasa penuh. Ada langkah-langkah tergesa menuju masjid ketika mata masih mengantuk. Ada tawa yang pecah di sekitar nampan makan, percakapan sederhana menjelang tidur, serta tangan seorang teman yang datang menguatkan ketika saya hampir menyerah.
Ada pula kerinduan kepada rumah yang tidak selalu dapat diucapkan, kesalahan yang mengajarkan pentingnya meminta maaf, dan hari-hari ketika saya harus berdamai dengan kenyataan bahwa menjadi lebih baik membutuhkan proses yang tidak selalu menyenangkan.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa setiap kesulitan di pesantren selalu mudah diterima atau bahwa setiap aturan dapat segera dipahami hikmahnya. Ada kalanya saya masih merasa lelah, kecewa, dan merindukan kebebasan yang dahulu saya miliki. Namun, pengalaman itu mengajarkan bahwa kedewasaan bukan berarti kehilangan perasaan-perasaan tersebut. Kedewasaan justru tumbuh ketika kita belajar menyikapinya tanpa selalu menyerahkan keputusan kepada keinginan sesaat.
Dinding Mahida tidak serta-merta mengubah saya menjadi manusia yang sabar, disiplin, atau bijaksana. Saya masih memiliki kekurangan, masih mungkin melakukan kesalahan, dan masih harus belajar banyak hal. Akan tetapi, di tempat inilah saya mulai mengenali kelemahan-kelemahan yang sebelumnya jarang saya sadari.
Barangkali, menemukan jati diri memang bukan tentang menemukan bahwa kita telah menjadi seseorang yang hebat. Terkadang, ia justru dimulai dari keberanian mengakui bahwa kita belum menjadi pribadi sebagaimana yang kita harapkan, lalu bersedia memperbaikinya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, saya memahami bahwa pesantren bukanlah tempat untuk bersembunyi selamanya dari dunia luar. Dindingnya tidak dibangun agar para santri berhenti mengenal kehidupan, melainkan menjadi ruang untuk mempersiapkan diri menghadapinya. Kami belajar hidup dalam keteraturan agar kelak tidak mudah kehilangan arah ketika berhadapan dengan berbagai pilihan. Kami belajar hidup bersama agar kelak tidak memandang perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh. Kami mempelajari ilmu agama agar kelak memiliki tuntunan dalam menjalankan tanggung jawab kepada Allah dan sesama manusia.
Hari Santri mengingatkan bahwa perjalanan itu tidak berhenti pada diri sendiri.
Kelak, kami akan meninggalkan kamar-kamar yang pernah menjadi tempat bertumbuh. Kami akan melewati gerbang pondok, kembali kepada keluarga, bertemu masyarakat, dan menjalani kehidupan yang persoalannya mungkin jauh lebih rumit daripada hafalan yang dahulu membuat kami hampir menyerah.
Pada saat itulah pelajaran yang kami peroleh akan menghadapi ujian yang sesungguhnya. Bukan lagi semata-mata seberapa banyak bait yang mampu dihafalkan, melainkan seberapa jauh ilmu membimbing tindakan. Bukan hanya seberapa baik kami berbicara tentang persaudaraan, tetapi seberapa sungguh-sungguh kami menjaga martabat dan hak orang lain. Bukan sekadar seberapa lantang kami menyatakan cinta kepada negeri, melainkan apa yang mampu kami lakukan agar kehadiran kami membawa manfaat bagi kehidupan di dalamnya.
Saya membayangkan suatu hari akan kembali berdiri di hadapan dinding Mahida. Mungkin warnanya telah berubah, lorong-lorongnya telah direnovasi, dan generasi santri yang menghuninya tidak lagi sama. Suara hafalan yang terdengar pun mungkin berasal dari orang-orang yang belum pernah saya kenal.
Namun, saya percaya akan ada sesuatu yang tetap tinggal.
Bukan hanya kenangan tentang tempat saya pernah belajar, melainkan kesadaran bahwa di balik dinding itulah saya mulai memahami arti menjadi manusia: menerima bahwa diri ini memiliki kelemahan, belajar bertanggung jawab atas pilihan, serta menyadari bahwa hidup tidak semata-mata tentang memperoleh sesuatu bagi diri sendiri.
Dulu, saya mengira dinding Mahida memisahkan saya dari luasnya kehidupan. Kini, saya mulai mengerti bahwa justru di baliknya saya dipersiapkan untuk memasuki kehidupan yang lebih luas itu.
Saya datang ke Mahida untuk menuntut ilmu. Di balik dindingnya, saya belajar menemukan diri. Dan ketika kelak melangkah keluar, saya berharap ilmu itu tidak berhenti pada diri saya sendiri, melainkan tumbuh menjadi pengabdian bagi sesama dan negeri.
Bacaan / Konten Lain
Komentar
Belum ada komentar yang diterbitkan.