Karya

Ruang publikasi karya Mahida.

Halaman Hari Ini

Kitab Baru

jsjsjsj

Lihat konten →

esai

Di Balik Dinding Mahida: Menempa Diri, Menjaga Negeri

Di balik dinding Pondok Pesantren Mahida, kehidupan santri bukan sekadar tentang hafalan, kedisiplinan, dan aturan. Melalui kerinduan, perjuangan, persaudaraan, serta keteladanan para guru, seorang santri belajar menemukan jati diri dan memahami bahwa kebebasan sejati bukanlah hidup tanpa batas, melainkan kemampuan mengendalikan hawa nafsu, mengalahkan ego, dan bertanggung jawab atas setiap pilihan. Esai reflektif ini menggambarkan bagaimana kehidupan pesantren menempa karakter, mendewasakan cara berpikir, dan menanamkan kesadaran bahwa ilmu tidak cukup hanya dikuasai, tetapi harus diamalkan demi kemaslahatan sesama, masyarakat, dan negeri.

terjemahan

Terjemah Nadhom Alala

Ringkasan Terjemah Nadzhom Alala merupakan naskah yang menyajikan bait-bait Nadzhom Alala dalam tiga bentuk, yaitu teks Arab, terjemahan Jawa/Pegon, dan terjemahan bahasa Indonesia. Isinya memuat berbagai nasihat mengenai adab menuntut ilmu, akhlak, kesungguhan belajar, persahabatan, serta bekal yang perlu dimiliki oleh seorang pencari ilmu. Penyajian dalam beberapa bahasa dimaksudkan agar kandungan setiap bait lebih mudah dipahami, khususnya oleh para santri, pelajar, dan pembaca umum yang ingin mempelajari pesan-pesan pendidikan dalam Nadzhom Alala. Naskah ini diterjemahkan oleh Ali Shodiq dan dikoreksi serta disunting oleh Ust. Erlanda Diki G. di lingkungan Pondok Mahida, Salam, Nglegok, Blitar.

artikel

Dari Hasad hingga Takdir: Enam Nasihat untuk Menjalani Kehidupan Refleksi dari Nashāihul ‘Ibād, Bab Tsudāsi, Maqalah ke-14

Maqalah ke-14 Bab Tsudāsi dalam *Nashāihul ‘Ibād* memuat enam nasihat yang tetap relevan dalam kehidupan bermasyarakat: menjauhi hasad, menjaga kejujuran, menghindari kebakhilan, menjaga amanah ketika memiliki kekuasaan, memperindah akhlak, dan menerima ketetapan Allah setelah berikhtiar. Nasihat tersebut mengingatkan bahwa masyarakat yang baik bermula dari hati dan perilaku manusia yang membentuknya.

esai

Menyemai Rasa, Memanen Cerita: Lembar Refleksi dari Kebun Pondok Mahida

Esai ini menggambarkan kegiatan bertani di Pondok Mahida sebagai sarana pendidikan karakter bagi santri. Melalui proses menanam, merawat, menghadapi cuaca, dan menunggu panen, santri belajar tentang kesabaran, ketekunan, tanggung jawab, kerja keras, serta rasa syukur. Bertani mengajarkan bahwa hasil yang baik tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Pada akhirnya, panen terbaik bukan hanya hasil dari tanah, tetapi juga tumbuhnya karakter, kedewasaan, dan kebijaksanaan dalam diri santri.

artikel

Ketika Hafalan Menjadi Jalan Cinta Ilmu

Ananda Sekar Arum Nuha U. menunjukkan ketekunan luar biasa dengan menyetorkan hafalan Matan Taqrib secara maraton dalam satu majlis. Momen ini menggambarkan bahwa keberhasilan menghafal kitab tidak diraih seketika, melainkan melalui pengulangan, kesabaran, keberanian, dan cinta kepada ilmu agama.