Semua Artikel

Artikel

Dari Hasad hingga Takdir: Enam Nasihat untuk Menjalani Kehidupan Refleksi dari Nashāihul ‘Ibād, Bab Tsudāsi, Maqalah ke-14

Oleh: Bahrul Ulumuddin A., XII MA Mahida

Maqalah ke-14 Bab Tsudāsi dalam *Nashāihul ‘Ibād* memuat enam nasihat yang tetap relevan dalam kehidupan bermasyarakat: menjauhi hasad, menjaga kejujuran, menghindari kebakhilan, menjaga amanah ketika memiliki kekuasaan, memperindah akhlak, dan menerima ketetapan Allah setelah berikhtiar. Nasihat tersebut mengingatkan bahwa masyarakat yang baik bermula dari hati dan perilaku manusia yang membentuknya.

9 menit baca

Dari Hasad hingga Takdir: Enam Nasihat untuk Menjalani Kehidupan  Refleksi dari Nashāihul ‘Ibād, Bab Tsudāsi, Maqalah ke-14

Hidup bersama orang lain ternyata bukan perkara sederhana. Kita berhadapan dengan perbedaan, persaingan, kepentingan, keberhasilan, kegagalan, kekuasaan, dan berbagai keadaan yang terus-menerus menguji watak manusia.

Tidak sedikit persoalan di tengah masyarakat yang sebenarnya bermula bukan karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena hati dan akhlak yang tidak terjaga. Hubungan bertetangga menjadi renggang karena iri. Kepercayaan rusak karena dusta. Kepedulian menghilang karena terlalu mencintai milik sendiri. Jabatan berubah menjadi alat untuk meninggikan diri. Perbedaan berakhir dengan saling merendahkan. Bahkan ketika rencana hidup tidak berjalan sebagaimana keinginan, manusia terkadang kehilangan ketenangan karena sulit menerima kenyataan.

Menariknya, persoalan-persoalan tersebut telah lama menjadi perhatian para ulama.

YouTube

Enam Kunci Ketenangan Hati: Kajian Nashāihul ‘Ibād Bersama Kiai Syamsul Hadi

Buka video asli

Dalam Nashāihul ‘Ibād, Bab Tsudāsi, maqalah ke-14, dinukil perkataan al-Ahnaf bin Qais R.A:

لاَ رَاحَةَ لِلْحَسُوْدِ، وَلاَ مُرُوْءَةَ لِلْكَذُوْبِ، وَلاَ حِيْلَةَ لِلْبَخِيْلِ، وَلاَ وَفَاءَ لِلْمُلُوْكِ، وَلاَ سُؤْدُدَ لِسَيِّئِ الْخُلُقِ، وَلاَ رَادَّ لِقَضَاءِ اللهِ

Secara ringkas, nasihat itu berbicara tentang enam perkara: tidak ada ketenangan bagi pendengki, tidak ada muruah bagi pendusta, tidak ada daya bagi orang bakhil, tidak ada jaminan kesetiaan dalam kekuasaan, tidak ada kemuliaan bagi orang yang buruk akhlaknya, dan tidak ada yang mampu menolak ketetapan Allah.

Enam kalimat pendek, tetapi masing-masing menyentuh persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia hingga hari ini.

1. Hasad: Ketika Kebahagiaan Orang Lain Menjadi Kesedihan Kita

لاَ رَاحَةَ لِلْحَسُوْدِ

Tidak ada ketenangan bagi orang yang hasad.

Hasad mempunyai cara yang aneh dalam menyiksa manusia.

Orang lain mendapatkan kebaikan, tetapi justru hati kita yang menjadi sempit. Tetangga mampu memperbaiki rumah, teman memperoleh pekerjaan lebih baik, saudara berhasil mengembangkan usaha, atau seseorang mendapatkan penghargaan—lalu tanpa disadari muncul rasa tidak nyaman.

Sebenarnya tidak ada sesuatu yang diambil dari kita.

Namun kebahagiaan orang lain terasa seperti kerugian bagi diri sendiri.

Dalam penjelasan maqalah ini, hasad digambarkan sebagai kesedihan yang muncul karena melihat kebaikan berada pada orang lain. Hal ini berbeda dengan persaingan yang sehat. Seseorang boleh ingin menjadi lebih baik setelah melihat keberhasilan orang lain, selama ia tidak berharap nikmat orang tersebut hilang.

Perbedaan keduanya berada di dalam hati.

Ketika melihat orang lain berhasil, kita dapat berkata:

"Saya juga ingin berusaha seperti dia."

Itulah dorongan untuk berkembang.

Namun ketika hati mulai berkata:

"Mengapa dia yang mendapatkannya? Semoga ia tidak lagi memilikinya."

Di situlah hasad mulai bekerja.

Pada zaman media sosial, penyakit ini mempunyai ruang yang jauh lebih luas. Hampir setiap hari kita diperlihatkan keberhasilan orang lain: pekerjaan baru, kendaraan baru, perjalanan, usaha yang berkembang, keluarga yang tampak bahagia, hingga berbagai pencapaian pribadi.

Kita akhirnya membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.

Padahal rumah kita mungkin sebelumnya terasa cukup, sampai melihat rumah orang lain. Pekerjaan kita terasa baik, sampai mengetahui pendapatan teman. Kehidupan kita sebenarnya tenang, sampai terlalu sibuk menghitung nikmat yang dimiliki orang lain.

Hasad tidak mengurangi nikmat orang yang kita iri.

Ia justru mengambil ketenangan dari diri kita sendiri.

Karena itu, salah satu kedewasaan dalam bermasyarakat adalah kemampuan untuk menghargai keberhasilan orang lain tanpa merasa bahwa keberhasilan tersebut mengurangi nilai diri kita.

2. Dusta: Kerusakan yang Dimulai dari Hilangnya Kepercayaan

وَلاَ مُرُوْءَةَ لِلْكَذُوْبِ

Tidak ada muruah bagi seorang pendusta.

Masyarakat dapat berjalan karena adanya kepercayaan.

Kita membeli barang karena percaya penjual menjelaskan kondisinya dengan benar. Kita menitipkan sesuatu karena percaya penerimanya akan menjaganya. Kita bekerja bersama karena percaya setiap orang akan menjalankan tanggung jawabnya.

Ketika kebohongan menjadi kebiasaan, fondasi itu perlahan runtuh.

Dusta tidak selalu muncul dalam bentuk kebohongan besar.

Seorang pedagang menyembunyikan cacat barang.

Seseorang membuat alasan palsu karena terlambat.

Janji diucapkan dengan mudah tetapi tidak pernah benar-benar hendak ditepati.

Informasi diteruskan ke grup keluarga atau media sosial tanpa mengetahui kebenarannya.

Kesalahan dalam pekerjaan ditutupi dengan laporan yang dibuat seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Masing-masing mungkin terlihat kecil. Namun jika terus dilakukan, orang lain perlahan tidak lagi percaya pada perkataan kita.

Inilah mengapa maqalah tersebut menghubungkan dusta dengan hilangnya muruah.

Muruah berkaitan dengan keluhuran diri dan kemampuan seseorang menjaga perilakunya sehingga tetap pantas dihormati.

Kehormatan seperti itu tidak bisa dibeli.

Ia dibangun melalui waktu yang panjang: dari ucapan yang dapat dipercaya, janji yang ditepati, dan keberanian mengatakan yang sebenarnya meskipun terkadang tidak menguntungkan diri sendiri.

Kepercayaan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun, tetapi terkadang cukup satu kebohongan untuk membuat orang lain mulai meragukannya.

  1. Bakhil: Banyak Memiliki, tetapi Sulit Berbagi

وَلاَ حِيْلَةَ لِلْبَخِيْلِ

Tidak ada daya bagi orang yang bakhil.

Ketika mendengar kata bakhil, pikiran kita biasanya langsung tertuju kepada uang.

Padahal kedermawanan jauh lebih luas.

Ada orang yang tidak memiliki banyak harta, tetapi mudah membantu. Ada pula orang yang berkecukupan, tetapi setiap kali diminta memberikan sedikit dari apa yang dimilikinya, hatinya terasa sangat berat.

Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak semua orang membutuhkan uang dari kita.

Ada tetangga yang membutuhkan tenaga.

Ada anak muda yang membutuhkan kesempatan.

Ada teman yang membutuhkan ilmu atau pengalaman.

Ada orang tua yang membutuhkan perhatian.

Ada seseorang yang sedang menghadapi masalah dan mungkin hanya membutuhkan orang yang bersedia mendengarkan.

Semua itu adalah ruang bagi kedermawanan.

Tradisi gotong royong yang tumbuh dalam masyarakat sebenarnya menunjukkan bahwa manusia tidak akan mampu menjalani semuanya seorang diri. Pada suatu hari kita membantu orang lain. Pada hari yang lain, mungkin kitalah yang membutuhkan bantuan.

Karena itu, kekayaan sejati bukan hanya tentang seberapa banyak yang dapat dikumpulkan.

Ia juga terlihat dari seberapa lapang hati seseorang ketika harus memberi.

Sesuatu yang terus kita genggam memang tidak mudah hilang dari tangan. Tetapi bila tangan tidak pernah terbuka, hubungan antarmanusia pun perlahan kehilangan kehangatannya.

  1. Kekuasaan: Ketika Amanah Berubah Menjadi Ujian

وَلاَ وَفَاءَ لِلْمُلُوْكِ

Bagian ini berbicara mengenai kekuasaan dan mereka yang memilikinya.

Namun kekuasaan tidak perlu selalu dibayangkan sebagai istana atau jabatan besar.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk kekuasaan sangat beragam.

Seorang kepala keluarga memiliki pengaruh terhadap keluarganya.

Pemilik usaha mempunyai kuasa terhadap pekerjanya.

Atasan memiliki pengaruh terhadap bawahannya.

Guru terhadap murid.

Ketua organisasi terhadap anggotanya.

Tokoh masyarakat terhadap lingkungan di sekitarnya.

Bahkan orang yang mempunyai banyak pengikut di media sosial memiliki pengaruh terhadap cara berpikir orang lain.

Setiap pengaruh membawa tanggung jawab.

Masalah muncul ketika seseorang merasa bahwa karena dirinya berada di atas, maka orang-orang di bawahnya dapat diperlakukan sesuka hati.

Padahal sebenarnya semakin besar kekuasaan seseorang, semakin banyak manusia yang dapat terluka oleh satu keputusan yang salah.

Kedudukan juga mempunyai kemampuan mengubah manusia.

Seseorang mungkin dahulu mudah ditemui, tetapi setelah mempunyai jabatan menjadi sulit didekati. Dahulu ia mengetahui bagaimana rasanya tidak didengarkan, tetapi ketika memiliki kekuasaan justru melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Karena itu kekuasaan membutuhkan penjagaan hati.

Jabatan tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang mulia. Jabatan hanyalah ruang yang lebih besar untuk memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya.

Apakah kekuasaan membuat seseorang semakin bermanfaat?

Atau justru membuatnya semakin ingin dilayani?

  1. Akhlak: Ukuran Kemuliaan yang Paling Mudah Dirasakan Orang Lain

وَلاَ سُؤْدُدَ لِسَيِّئِ الْخُلُقِ

Tidak ada kemuliaan bagi orang yang buruk akhlaknya.

Seseorang dapat mempunyai pendidikan tinggi.

Ia dapat kaya.

Ia dapat memiliki jabatan.

Ia bisa mempunyai banyak pengikut.

Namun ada satu hal yang tidak dapat digantikan semuanya: akhlak yang baik.

Kepandaian mungkin membuat seseorang dikagumi.

Kekayaan membuatnya dikenal.

Jabatan membuat perkataannya didengar.

Tetapi akhlak menentukan apakah keberadaannya membuat orang lain merasa dihargai atau justru merasa direndahkan.

Inilah mengapa akhlak begitu penting dalam kehidupan sosial.

Cara berbicara kepada pelayan, cara memperlakukan bawahan, cara menyikapi orang miskin, cara berdiskusi dengan orang yang berbeda pandangan, hingga cara merespons kesalahan orang lain sering kali memperlihatkan karakter yang sebenarnya.

Terlebih pada zaman media sosial.

Tidak jarang seseorang sangat santun ketika bertatap muka, tetapi berubah ketika berada di balik layar. Hinaan, ejekan, cacian, bahkan tuduhan dapat ditulis begitu mudah hanya karena tidak melihat langsung wajah orang yang menjadi sasaran.

Padahal akhlak tidak berhenti ketika kita memegang ponsel.

Orang di balik akun tetaplah manusia.

Perbedaan pendapat tidak harus berubah menjadi penghinaan.

Kritik tidak membutuhkan cacian agar terdengar tegas.

Dan memenangkan perdebatan tidak selalu berarti memenangkan hati manusia.

Dalam penjelasan maqalah tersebut, akhlak yang baik ditempatkan pada kedudukan yang sangat tinggi. Hal ini mengingatkan bahwa nilai manusia tidak hanya terletak pada pengetahuan yang ia miliki, tetapi juga pada bagaimana pengetahuan itu membentuk perilakunya.

  1. Takdir: Mengetahui Mana yang Harus Diperjuangkan dan Mana yang Harus Diterima

وَلاَ رَادَّ لِقَضَاءِ اللهِ

Tidak ada yang mampu menolak ketetapan Allah.

Kalimat terakhir membawa manusia kembali kepada satu kenyataan penting:

Tidak semua hal berada dalam kendali kita.

Manusia boleh membuat rencana sedetail mungkin.

Namun kehidupan selalu mempunyai kemungkinan berjalan dengan cara yang berbeda.

Ada usaha yang telah dikerjakan bertahun-tahun tetapi belum memberikan hasil sebagaimana diharapkan.

Ada pekerjaan yang tiba-tiba hilang.

Ada hubungan yang tidak dapat dipertahankan.

Ada rencana yang gagal.

Ada kehilangan yang tidak pernah kita persiapkan.

Ada doa yang jawabannya datang dalam bentuk berbeda dari keinginan kita.

Pada saat seperti itu, menerima ketetapan Allah bukan berarti berhenti berusaha.

Islam tidak mengajarkan manusia duduk diam kemudian menyebut semuanya sebagai takdir.

Yang bisa diperbaiki harus diperbaiki.

Yang masih bisa diperjuangkan harus diperjuangkan.

Kesalahan harus dievaluasi.

Kesempatan harus dicari.

Tetapi setelah manusia melakukan apa yang berada dalam kemampuannya, ada saat ketika ia harus menyadari bahwa dirinya bukan pemilik seluruh hasil.

Ada perkara yang memang harus dilepaskan.

Kemampuan menerima hal seperti itu bukan kelemahan.

Justru terkadang itulah bentuk kekuatan yang paling sulit.

Manusia membutuhkan kebijaksanaan untuk membedakan antara sesuatu yang harus diperjuangkan dan sesuatu yang sudah waktunya diterima.

Membangun Masyarakat Dimulai dari Memperbaiki Diri Enam nasihat dalam Nashāihul ‘Ibād ini pada akhirnya menunjukkan bahwa banyak persoalan besar dalam kehidupan sosial bermula dari sesuatu yang sangat pribadi: hati dan perilaku manusia.

Hasad mengajarkan kita untuk tidak menjadikan nikmat orang lain sebagai sumber kegelisahan.

Kejujuran menjaga kepercayaan.

Kedermawanan menjaga kepedulian.

Amanah menjaga kekuasaan agar tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan.

Akhlak menjaga hubungan antarmanusia.

Sedangkan keimanan kepada ketetapan Allah menjaga manusia agar tidak hancur ketika kehidupan berjalan berbeda dari rencana.

Kita sering berbicara mengenai masyarakat yang baik, lingkungan yang harmonis, pemimpin yang amanah, perdagangan yang jujur, dan kehidupan sosial yang saling membantu.

Tetapi semuanya pada akhirnya kembali kepada manusia yang membentuk masyarakat tersebut.

Sebab masyarakat bukan sesuatu yang berdiri sendiri.

Ia adalah kumpulan dari diri kita.

Jika hati dipenuhi iri, masyarakat akan penuh persaingan yang tidak sehat. Jika dusta dianggap biasa, kepercayaan akan hilang. Jika setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri, kepedulian akan mati. Jika kekuasaan tidak dijaga dengan akhlak, yang lemah akan mudah menjadi korban.

Sebaliknya, perubahan besar terkadang dimulai dari sesuatu yang sederhana:

mampu ikut bahagia atas keberhasilan orang lain, jujur meskipun sulit, ringan membantu, amanah ketika dipercaya, menjaga tutur kata, serta tetap berusaha sambil menerima bahwa tidak semua hasil berada dalam kendali manusia.

Kitab mungkin ditulis berabad-abad lalu.

Namun manusia masih membawa hati yang sama.

Karena itulah nasihat tentang akhlak tidak pernah benar-benar menjadi tua.

---

Sumber kajian: Nashāihul ‘Ibād, Bab Tsudāsi, Maqalah ke-14.

Komentar (0)

Bacaan / Konten Lain

Komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan.

Komentar tamu akan ditampilkan setelah disetujui Admin.