Semua Artikel

Artikel

Ketika Hafalan Menjadi Jalan Cinta Ilmu

Ananda Sekar Arum Nuha U. menunjukkan ketekunan luar biasa dengan menyetorkan hafalan Matan Taqrib secara maraton dalam satu majlis. Momen ini menggambarkan bahwa keberhasilan menghafal kitab tidak diraih seketika, melainkan melalui pengulangan, kesabaran, keberanian, dan cinta kepada ilmu agama.

2 menit baca

Ketika Hafalan Menjadi Jalan Cinta Ilmu

Di hadapan satu majlis, Ananda Sekar Arum Nuha U. menapaki sebuah ujian yang tidak sederhana: menyetorkan hafalan Matan Taqrib secara maraton. Bukan sekadar melafalkan deretan kalimat berbahasa Arab, momen itu adalah perjumpaan antara hafalan, keberanian, kesabaran, dan kecintaan seorang santri kepada ilmu agama.

Matan Taqrib dikenal sebagai salah satu kitab dasar fikih yang padat makna. Di dalamnya tersimpan pembahasan tentang tata cara beribadah dan prinsip-prinsip kehidupan seorang Muslim. Menghafalnya menuntut ketelitian; satu kata yang terlewat dapat mengubah susunan kalimat, sementara satu bagian yang lupa dapat menguji ketenangan di hadapan guru dan para hadirin.

YouTube

Saksikan momen setoran Matan Taqrib satu majlis

Buka video asli

Pada saat setoran dimulai, suasana majlis seolah mengajak semua orang untuk ikut menyimak perjuangan itu. Sekar tidak sedang menampilkan kemampuan untuk memperoleh pujian. Ia tengah mempertanggungjawabkan waktu-waktu sunyi yang telah ia gunakan untuk mengulang hafalan: lembar demi lembar, kalimat demi kalimat, hingga materi yang semula terasa panjang perlahan menemukan tempatnya dalam ingatan.

Setoran satu majlis menuntut kekuatan yang lebih dari sekadar daya ingat. Hafalan harus dijaga dari awal hingga akhir. Konsentrasi tidak boleh putus, napas harus diatur, dan ketenangan harus dipelihara ketika rasa gugup datang. Dalam perjalanan panjang itu, seorang santri belajar bahwa ilmu tidak selalu hadir melalui jalan yang mudah. Ada lelah yang perlu dilawan, ada pengulangan yang terkadang terasa membosankan, dan ada kesalahan yang harus diterima sebagai bagian dari proses belajar.

Namun justru di situlah nilai perjuangannya. Ketekunan Sekar memperlihatkan bahwa hafalan tidak tumbuh dalam satu malam. Ia dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus: membuka kitab, mengulang pelajaran, menyimakkan bacaan, lalu kembali memperbaiki bagian yang belum lancar. Maraton hafalan di satu majlis menjadi puncak dari perjalanan panjang yang barangkali tidak seluruhnya terlihat oleh orang lain.

Bagi para santri yang menyaksikan, momen tersebut dapat menjadi pengingat yang kuat: menuntut ilmu agama bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat, melainkan perjalanan untuk tetap setia pada proses. Ketika seorang santri berani berdiri dan menyetorkan hafalannya di hadapan majlis, ia sedang menunjukkan bahwa setiap kesungguhan akan menemukan hasilnya pada waktunya.

Komentar (0)

Bacaan / Konten Lain

Komentar

Belum ada komentar yang diterbitkan.

Komentar tamu akan ditampilkan setelah disetujui Admin.